Selasa, 29 Mei 2012

Leap Year, Going The Distance, and Morning Glory

Beberapa hari ini saya kepengen banget nget nget nonton film romantis. Makasih banget buat temen-temen yang ngasih banyak banget rekomendasi dan Dita yang baik hati banget nyewain VCD di persewaan deket rumahnya (habisnya yang punya DVD anak kelas sebelah pada jarang ketemu).


Eniwei, 3 film yang saya tonton dalam dua hari ini adalah:


Leap Year (2010)



Ceritanya tentang Anna Brady (Amy Adams) yang melakukan perjalanan dari Boston, Amerika ke Dublin, Irlandia demi ngelamar Jeremy (Adam Scott), pacarnya. Anna rela ngelakuin perjalanan ini karena percaya dengan mitos kuno Irlandia tentang perempuan boleh ngelamar cowoknya pada waktu Leap Year. Dan ternyata perjalanan ini nggak mulus-mulus aja, dia menyeret Declan (Matthew Goode) ke situasi yang, kalo bisa dibilang, sial, tapi romantis.


Going The Distance (2010)


Long Distance Relationship, itu yang coba disampaikan oleh film ini. Mungkin buat orang Indonesia, LDR ini susah-susah gampang, tapi buat bule Amrik sono kayaknya LDR itu hampir mustahil. Di film ini Garret (Justin Long) dan Erin (Drew Barrymore) berusaha bertahan di tengah tekanan lingkungan teman dan keluarga yang selalu bikin nggak yakin mereka bisa melalui proses LDR itu. And OMG! I love Garret! He's such a gentle man, really really gentle as a man. Dan menurut saya film ini realistically romantic.


Morning Glory (2010)


Becky Fuller (Rachel McAdams) adalah seorang eksekutif produser acara berita di sebuah statsiun televisi di New Jersey. Sialnya, ketika ada pengurangan jumlah pegawai, dia termasuk salah satu yang dipecat. Nggak lama kemudian dia dapet pekerjaan di IBS New York sebagai eksekutif produser acara televisi pagi yang hampir dihentikan karena ratingnya yang terus turun, Daybreak. Di situlah seluruh kemampuan profesional nya diuji. Salah satu gebrakannya adalah menjadikan Mike Pomeroy (Harrison Ford), jurnalis kawakan yang super angkuh, sebagai pembawa acara Daybreak.


Dari ketiga film tadi, saya suka semua sih, lumayan semua dari segi ceritanya, romantis. Menarik banget kan kalo di suatu perjalanan, kamu ketemu dengan cowok yang ngeselin tapi sebenernya baik hati, kayak di Leap Year. Tapi kok rasanya agak spekulatif, mengingat cowok itu adalah orang asing, bisa aja kamu ditipu. Ya nggak sih? Hahahaha, emang yang romantis seringnya agak kurang realistis. Tapi, Going The Distance itu menurut saya cukup realistis dan romantis, mengingat papa dan ibu saya juga LDR hampir di sepanjang pernikahannya. Mmmm... Kalo yang terakhir, Morning Glory, itu adalah film yang proffesionaly romantic. Karena dalam kerja, kita nggak bisa nggak saling bergantung satu sama lain, apalagi untuk pekerjaan yang modelnya kayak Daybreak itu. Semuanya harus merasa seperti keluarga, baru bisa menghasilkan acara yang bagus. Ini satu-satunya film yang bikin saya nangis di antara tiga film tadi :)



Sabtu, 26 Mei 2012

Men In Black 3

[draft] Kamis, 24 Mei 2012


Ngehe itu adalah ketika sampai di kampus tepat waktu tapi jam di kelas terlalu cepet setengah jam dan dosen yang super-konservatif udah masuk kelas. 


Saya bangun nggak kesiangan juga sih, jam 04.30, cuman agak males aja jadi agak lelet dan sampe di kampus persis banget jam 07.00. Sayangnya, bapak dosen udah masuk dan jam di kelas udah nunjukin 07.30. Alhasil saya nggak boleh masuk #okesip. 


Selese ngampus jam 10.20, tapi saya, Eva, Dita, dan Sumi males balik, nggak ngerti mau ke mana, asal jalan aja tau-tau kita sampe di Paragon. Tadinya mau cari es krim sama pancake aja, eh nggak ngerti gimana kepikiran nonton di XXI. Akhirnya kita nonton Man In Black 3, bareng Ica juga yang nggak sengaja ketemu di sana. 


Menurut saya sih keren banget filmnya. Bagus dari segi cerita dan visualnya walopun nggak begitu kerasa 3D nya. 


Cerita berawal dari Boris the Wild, alien dari Planet Blogodite, yang kabur dari penjara alien, Lunar Max, di bulan. Karena ulah si Boris yang kembali ke masa lalu dan mengubahnya, Agen K nggak ada di masa sekarang. Dan Agen J berusaha keras untuk mengembalikan partnernya ke masa sekarang dengan melakukan time traveling dan membunuh si Boris ini. 


Tokoh keren yang saya suka di film ini, selain Agen J, of course adalah Griffin yang punya kemampuan melihat secara 5 dimensi. Well, itu hebat banget sekaligus serem. 


Yang jelas, film ini nggak ngecewain lah buat ditonton :D


*btw, itu giginya si Boris kalo nggak salah tipe Mulberry Teeth deh (mendadak inget kuliah gimul)

Rabu, 23 Mei 2012

Kuliah = SD Rasa SMP

Buat saya, mungkin masa SMA itu bukan masa yang paling indah. Hahahahahaha. Ya salah saya sih pas SMA super apatis gitu, nggak ikut ekskul apa-apa, nggak kenal sama siapa-siapa. Beda banget dengan jaman SD yang saya super (sok) aktif ikut ekskul mulai dari komputer, pramuka, renang, sampai nari jawa (yang lebih banyak bolosnya). Tapi yang paling saya suka tuh jaman SMP. Emang sih temennya itu-itu doang secara anak aksel ya, tapi ngerasanya deket aja gitu satu sama lain. 


Nah buat saya, kuliah itu mirip kayak SD. Di kampus, entah gimana waktu itu saya daftar oprec staf BEM dan taunya keterima dan taun berikutnya saya jadi menteri (yang saya akui sepertinya sama sekali nggak kompeten -_____-). Saya juga sering ikutan kepanitiaan secara hampir tiap tahun, masing-masing angkatan mengemban satu kegiatan penting. Saya ikutan BK , semacam ekskul gitu, yang... saya kurang ngerti gimana juga. Hahahahahaha. 


Selain itu, yaaaa, di FK itu kuliahnya super lama, 6 tahun, kayak anak sekolah SD. Mana yang unik, angkatan saya itu satu-satunya yang nggak diacak. Jadi, tiap angkatan kan ada dua kelas, nah kalo angkatan lain, tiap ganti semester, mahasiswanya diacak, jadi yang tadinya sekelas bisa jadi nggak sekelas. Tapi, nggak ngerti gimana, angkatan saya ini beda sendiri, jadi yaaaa sampek tuek temen sekelasnya itu-itu juga.


Rasa SMP? Pas SMP, karena sekelas saya ceweknya cuman tujuh, kita deket banget, bisa ngobrol seru, curhat, sampe berantem. Saya punya temen cewek paliiiiiiiinggg deket selama kuliah ini ada enam orang, tujuh termasuk saya. Kita suka pergi bareng, nge-mall, nyalon, ngobrol, curhat, berantem nggak penting, dan yang paling SMP... nge-fans sama cowok keren di kampus *facepalm* Asli menurut saya itu tingkah anak SMP banget, kalo ketemu dieeeeeem cep, kalo agak jauhan duh ngelirik-lirik sampe mata jereng, trus ngecie-ciein, bangga banget kalo habis ketemu padahal dilirik juga kagak. Hahahahaha. But, that insane things are things which keep us alive here. Alah lebay! Tapi seriusan itu fun banget. Ya, kita nggak naksir beneran sih, cuman suka aja liat cowok keren, boleh dong... Nggak mau kalah sama cowok. 


Dan saya bertujuh temen-temen deket juga sama beberapa temen cowok, yah kalo diitung-itung jumlahnya kurang lebih sama lah dengan jumlah anak aksel. Kita suka pergi bareng juga main ke mana, nonton kek, makan kek, ngerjain siapa yang ulang tahun kek, becandaan sampe sore di kampus, ngegosip. Dan sama aja kayak kami cewek-cewek (childish) ini cowok segerombol juga tingkahnya aneh-aneh kalo liat cewek cantik. Hahahahaha. But it's totally fun! Dan nggak kebayang ntar kalo koas kita nggak bisa bareng tiap hari. We're gonna miss these moments a lot :')


"Medical school = long life study and long life friendship"

Hepatitis

Thanks to a relative of mine, yang gara-gara dia, saya jadi bongkar-bongkar lagi buku Patologi Klinik yang udah saya kubur dalam-dalam di kotak harta karun. 

Kasus:
Seorang pasien laki-laki usia 21 tahun datang dengan keluhan pegal-pegal, badan terasa tidak enak, demam, mual dan muntah, diare, dan air kencing seperti teh. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan suhu tubuh 39 derajat Celcius, tekanan darah, nadi, dan RR normal. Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan jumlah trombosit, jumlah eritrosit dan leukosit normal, asam urat tinggi, SGOT 250, HBsAg negatif. Dari hasil USG juga didapatkan gambaran yang normal. Diagnosisnya?

Dari hasil bongkar-bongkar tadi ditambah diskusi dengan senior dan teman sekelas saya, saya nyoba nebak diagnosisnya Hepatitis A. Alasannya? 

Biasanya, kelainan pada hati lain mempunyai gejala seperti di atas: mual, muntah, diare (biasanya warnanya pucat), dan air kencing yang berwarna seperti teh. Biasanya ada juga satu tanda khas, yaitu kuning atau jaundince yang biasanya tampak sebagai perubahan warna di kulit dan bola mata, tapi hal ini tidak terjadi pada kasus. Ditambah lagi pada kasus ini didapatkan SGOT tinggi hingga mencapai angka 250, padahal normalnya hanya 4-50 unit per liter serum. Karena ada demam, suhu tubuh mencapai 39 derajat Celcius, kemungkinan di sini terjadi infeksi dan infeksi yang tersering pada hati biasanya oleh virus hepatitis. Tapi, pemeriksaan HBsAg nya negatif? Pemeriksaan HBsAg itu untuk menilai ada enggaknya virus hepatitis B (HBV), mungkin saja virus tipe yang lain (A, C, D, atau E). Selain HBV yang mudah dinilai adalah HAV, maka untuk memastikan bisa dilakukan pemeriksaan Imunoglobulin M Anti-HAV, semacam kekebalan tubuh yang terbentuk akibat adanya infeksi virus HAV. Kalo Imunoglobulin M Anti-HAV ini didapatkan postif, kemungkinan pasien memang menderita Hepatitis A. 

Ada 5 macam virus hepatitis: HAV, HBV, HCV, HDV, dan HEV. HAV dan HEV biasanya muncul  dengan tanda peningkatan SGOT yang sangat tinggi dan cepat, tapi sifatnya akut, sehingga dia bisa kembali normal relatif cepat dibanding dengan hepatitis akibat virus dengan tipe yang lain. Hanya sebagian saja berubah menjadi bentuk fulminan. Sedangkan HBV bersifat kronis dan apabila berlanjut dapat terjadi sirosis, begitu pula dengan HCV. Seringkali HCV juga dikaitkan dengan terjadinya kanker hati. Sedangkan HDV hanya bersifat ikutan. Biasanya HDV menyerang penderita yang terlebih dahulu diserang oleh HBV dan adanya HDV ini dapat memperburuk keadaan. 

HAV dan HEV ditularkan melalui makanan atau minuman, jadi untuk mencegahnya hindari pemakaian alat makan/ minum  dan sikat gigi bergantian dengan penderita. Sedangkan HBV dan HCV ditularkan melalui pertukaran cairan atau darah, misalnya melalui suntik dan transfusi, bisa juga dari proses persalinan (dari ibu ke anak).

Asam urat dalam kasus ini hanya menimbulkan rasa pegal-pegal dan punya mekanisme yang berbeda dengan kelainan hati yang mungkin terjadi. 

...

Naaaahhhh, dan beberapa hari kemudian saya diberitahu kalau diagnosis saya benar. Aaaaaahhhh... Suerrrr itu rasanya seneng banget bisa latian nge-diagnosis gitu :) Alhamdulillah. Jadi makin semangat belajar biar cepetan jadi dokter :D (padahal dulu bencinya amit-amit mesti kuliah kedokteran :P)

Minggu, 20 Mei 2012

Partus

Partus atau proses persalinan itu adalah hal yang hampir selalu dilalui oleh semua wanita. Yah, selama kuliah juga saya tahu kalau bayi yang tadinya di uterus itu keluarnya lewat liang vagina. Tapi, kebayang nggak sih?


Saya nggak pernah ngebayangin sampe beberapa minggu lalu ikut Medical Training di kampus, topiknya adalah Partus. Di acara MedTrain itu, kami dikasih tontonan video orang lagi partus. Dan itu bukan video animasi, itu beneran, itu orang. Dan yang bikin makin ngep, orangnya itu orang Indonesia. Yaaa, emang orang Indonesia kek, orang India, Eropa, Amerika, sama-sama orang. Tapi, kesannya kalo orang Indonesia, yaaa nggak jauh-jauh dari kita, dan pelayanan yang mungkin ntar kita terima -well, saya terima- mungkin nggak beda jauh dari itu. 


Saya nggak akan jelasin detilnya tapi seriusan nonton video itu saya teriak-teriak, ngerintih-rintih sepuluh kali lebih banyak ketimbang pas nonton Insidious. Hoaaaahhh... Rasanya ngep banget. Bayangin ada kepala bayi keluar dari situ... Dan keluarnya pelan-pelan, nggak boleh ditarik... Mana habis itu mesti dijahit... Duh, nontonnya aja saya kepingin pingsan. Dan setelah nonton bolak-balik saya dan temen-temen ngomong sendiri, "Duh, ntar gimana ya kalo melahirkan? Ini aku masih kepingin punya anak kan ya? Masih pingin hamil sama melahirkan kan ya? Duh, apa caesar aja ya ngelahirinnya?" Wis pokoke omongan kita udah jauh-jauh ke sana dan mendadak kehilangan minat untuk hamil dan melahirkan (yaaa, moga-moga sementara aja sih).


...


Berarti, ibu-ibu kita tuh jago banget lho temen-temen. Bener-bener super. Dih, serius itu ngelahirin udah susah, ngeri lagi. Haaaahhhh... Saya aja sekarang kalo nyaris bete sama ibu, pasti kebayang video itu dan yahhh, ikhlas aja deh. Ngelahirin yang normal kayak begitu aja ngeri banget, apalagi waktu itu saya lahirnya sungsang, lebih susah dan lebih ngeri lagi. Hahhh... Bu, makasih banget yaaa, apapun yang saya lakuin nggak akan nyamain setitik pun yang ibu kasih ke saya :')

Long Weekend

Sooo... How was your long weekend? 

Kamis kemarin, hari pertama long weekend, saya jemput papa di bandara, pulang sebentar, sarapan bareng, trus cusss berangkat ke rumah nenek di Pemalang. Pas udah nyampe tol, baru dapet kabar kalo nenek lagi di Jakarta, tadinya mau balik lagi, tapi akhirnya kita tetep pergi. Ternyataaaaa.... Masya Allah, jalannya super maceet! Masa Semarang-Pemalang biasa makan waktu paling lama 3 jam, kemarin itu sampe 5 jam. Dan kita sampe di sana udah sore, cuman makan dan ngobrol trus balik lagi ke Semarang dan sama aja, macet lagi! Sampe rumah jam 11 malem. 

Oya, sepupu sial saya, si Reni, sekarang jago berdagang lhoooo... Dia jadi semacam distributor batik gitu secara asalnya dia deket Pekalongan, dan temennya yang ngejual-jual. Baru sebentar lho dia bisnis dan udah balik modal aja. Hihihihi, saya dikasih blazer batik gratisan. Makasih sayaaaang, makin lancar yaaa bisnisnya :)

Jumat... Kayaknya di rumah aja deh, soalnya tante saya dateng dari Jakarta dan malemnya nonton Indonesian Idol. Hahahahaha. Dan yaaaahhh... Saya suka suaranya Febri. Hahahaha. Hina saya hina saya!!! Behhh... Saya selalu dihinadina sama temen-temen saya karena lebih dukung Febri ketimbang Regina, Sean, dan Dion. Yaaaa, beda boleh laaahh... Saya akuin kok kalo suaranya Regina dan Sean itu subhanallah banget bagusnya. Dan gayanya Dion lain daripada yang lain. Dan saya yakin mereka bertiga pasti bisa lah ya nembus 5 bahkan 3 besar. Tapi, si Febri ini suaranya saya seneng banget sampe suka ngep nggak bisa napas! Hahahaha. Kalo kata temen saya kayak Matthew Bellamy KW entah berapa. All package (suara + tampang) saya lebih suka dia lah daripada Dion walopun kata orang-orang dia seksi, yahh beda tipe aja :P Jadi yaaaa, walopun mungkin dia nggak bakalan menang, jangan cepet-cepet keluar lah ya. Hahahahaha. 

Sabtu, saya renang di Oasis pagi-pagi, eh taunya ketemu sama Sasri sekeluarga lagi renang juga. Tadinya saya nggak sengaja denger, 'kok ini orang suaranya kayak Sasri' trus saya sapa ternyata bener. Hahahaha. Bener-bener deh, setelah hampir 3 taun nggak ketemu, masih samaaaa banget kayak dulu. Saya juga ketemu temen sekaligus partner selama workcamp kemarin, Mbak Rahma, kalo ini sih saya beneran mikirnya lamaaaaaa banget baru ngeh. Siangnya saya jalan sama Rizka karena kepengen banget makan pizza.

Minggu, saya bangun kepagian, jadi nonton Final UCL deh. Kirain, Bayern dengan gampang bisa ngalahin Chelsea taunya nggak juga ya. Hahahahaha. Jago banget deh Chelsea jadi juara gitu. Pantes pantes pantes dah menang. Dan sesiangan balik seleksi AFS, saya ngebahas pertandingan sama adek. Kemarin rencana mau nongkrong juga sama Bang Danar, jarang-jarang dia main ke Semarang. Tapi saya ketiduran dari jam 3 siang sampe jam setengah 2 pagi tadi, cuman bangun buat solat asar sama magrib doang :P


Feel Like A Loser

Jadi mahasiswa kedokteran itu, kadang-kadang rasanya aneh dan nggak wajar. Bukan masalah jadi mahasiswa kedokterannya, mungkin karena yaaahh... Gini deh contohnya...


Beberapa waktu yang lalu, di kelas saya, di tengah jam ujian tengah semester, ada kakak kelas yang tiba-tiba jatuh dan kejang-kejang. Epilepsinya kambuh. Di situ ada sekitar 120 mahasiswa dan semuanya calon dokter. Tapi, pas ada kejadian kayak gitu, hampir nggak ada yang gerak. Semuanya saling ngelihat satu sama lain, berpandangan, dan semua saling tahu apa yang dipikirkan satu sama lain, "kita mesti ngapain?"


Oke, mahasiswa yang saling memandang, sambil ragu-ragu untuk beranjak, salah satunya saya. Beneran itu rasanya kayak pengen nolong, cuman nggak tau apa yang mesti dilakuin, dan takut memperunyam keadaan. Yang bikin ragu-ragu lagi, saya duduk jauh dari si kakak kelas yang epilepsi nya kumat ini, dan masih banyak temen dan kakak kelas calon rekan sejawat yang duduk lebih deketan sama si kakak, dan mereka juga sama seperti saya. Sumpah, rasanya loser banget.


Untung dosen yang juga dokter langsung ke kelas saya, setelah ditelpon yang jaga ruang ujian. Dan hampir semua mahasiswa ngelihat dengan wajah penasaran dan pengen tahu macam saya. Sebenernya nggak rumit banget ngadepin penderita epilepsi, buat pertolongan pertama. Jadi, kalo kakak kelas saya itu kasusnya setelah kejang, dia kemudian pingsan. Nah, selama kejang itu kan air liurnya keluar dan nyumbat di mulut, sama kayak prinsip Air, Breathing, Circulation, pertama mesti dibersihkan dulu jalan nafasnya. Kalo yang waktu itu saya liat sih ibu dosen ngebersihin air liur nya pake tisyu, supaya nggak tersumbat jalan nafasnya. Nah, kalo kejangnya masih ada atau lidahnya menjulur keluar karena kejang tadi, mulutnya disumpal pake sapu tangan, jadi lidahnya nggak kegigit. Kalo kira-kira udah cukup tenang, seperti orang pingsan atau tidur gitu, coba dibangunin pelan-pelan atau pake bau-bauan semacem minyak kayu putih. 


Ahhhh.... Alhamdulillah, akhirnya si kakak kelas bangun dan ngerjain ujian lagi. Hmmm... Yah, paling enggak sekarang tau apa yang mesti dilakuin kalo ada kasus kayak gitu lagi. Insya Allah, nggak feel like a loser lagi :)